Jumat, 03 Desember 2010

Menghargai leluhur, menuai kebijakan

MUNGKIN memang banyak adanya sinyalemen bahwa kini tak lagi banyak manusia yang perduli dengan masa lalu, sejarah, leluhur, nenek moyang, dan segala hal yang berhubungan dengan “jejak jejak waktu”. Itu klasik kuno, salaf, ortodoks, ketinggalan zaman, berkarat, dsb. Itu harus di tinggalkan dengan pola pembongkaran, peruntuhan, penghancuran, lalu di semailah bentuk tradisi baru yang di anggap lebih baik, mumpuni, hebat, relevan dengan situasi sekarang. Al-hasil, yang dari khazanah masa lalu di campakkan ke tong-tong dan gorong-gorong sampah peradaban, sementara yang dari masa kini diklaim sbg “ the ultimate thing” yang patut, bahkan wajikb, di konsumsi oleh kita semua.
Tapi betulkah kita harus searogan dan sekejam itu?? Mestikah kita mampu bermula dari sini, di titik ini, tanpa pernah menoloeh dan merengkuh sumbangan titik-titik sebelumnya yang mulai membentuk sebuah lingkaran tegas? Dan yang paling patut di jejalkan ke permukaan, mungkinkah kita hidup di masa sekarang tanpa adanya masa lalu, leluhur, nenek moyang?
Ini pun pertanyaan2 klasik, memang. Tapi, harus di akui dengan jantan bahwa pertanyaan2 eksistensial dan esensial tentang wujud kita di dunia ini tersebut mewakili seluruh kerisauan yang bersemi di kepala para filsuf, dari yang klasik sekaliber Plato hingga yang kontemporersekelas Jacques Derrida.
Bagaimanakah sikap kita terhadap masa lalu? Itulah pertanyaan yang terus mencuat dan tak kunjung menemukan muara jawabannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar